
Semua bermula dari sebuah sujud panjang selepas Magrib.
Pada malam yang tenang itu, aku duduk sendiri ditemani secangkir kopi dan halaman-halaman yang belum selesai kutulis dalam sebuah buku berjudul ANTARA CINTA DAN KEIKHLASAN.
Malam itu aku sedang menulis Bab 8, sebuah bab yang kuberi judul “AKU INGIN KEMBALI PADA JALAN-MU TUHAN.”
Tentang seorang manusia yang lelah pada dunia, lalu memilih pulang kepada Tuhan dengan hati yang ikhlas. Tentang keyakinan bahwa ketika seseorang benar-benar kembali kepada-Nya, maka Tuhan akan mempertemukannya dengan seseorang yang telah dipilihkan oleh langit.
Di tengah sunyi malam dan kalimat-kalimat yang sedang kurangkai, jemariku berhenti sejenak. Aku membuka layar ponselku, lalu sebuah story meliana muncul di halaman depan Facebook-ku.
Entah dorongan dari mana, malam itu aku memberanikan diri memulai sebuah sapaan sederhana.
Dan seperti doa yang diam-diam dijawab Tuhan, kamu membalasnya dengan hangat.
Namun ada satu hal yang bahkan kamu belum tahu.
Sesungguhnya nomor WhatsApp-mu telah lama tersimpan di ponselku sejak tahun 2021 — jauh sebelum kamu mengenalku seperti hari ini. Nomor itu tersimpan begitu saja tanpa pernah benar-benar kuhubungi. Aku sendiri tak pernah mengerti mengapa. Seolah ada waktu yang belum diizinkan Tuhan untuk mempertemukan kita.
Hingga akhirnya, pada malam itu, semua terasa berbeda.
Seakan semesta berkata bahwa penantian panjang itu akhirnya menemukan waktunya.
Percakapan kecil itu tumbuh perlahan, mengalir dari Facebook menuju WhatsApp, hingga akhirnya waktu membawa kita pada sebuah pertemuan pertama di Mlangun Cafe.



